tanpa pikir banyak, gw rasa stase pulmo gw sejauh ini adalah yang terbaik di antara semua stase yang pernah gw jalanin di perkoassan tingkat 4!!!!! ini dia alasannya:

1. adem. karena banyak pohon
2. deket rumah gw
3. variasi kuliner yang menantang di sekitarnya
4. suasananya bersahabat
5. kamar koass super-eksklusif
6. igdnya selalu rame
7. bebas tindakan!
8. koass rasa dokter

****

1. adem. karena banyak pohon

yap. visi green hospital emang masuk banget sama rimbun dan ademnya hawa di rs ini. begitu turun mobil, langsung bisa lo cium bau oksigen.. ress!! adem bner rek!

2. deket rumah gw

5 menit naik mobil tanpa traffic. 10 menit naik mobil dengan traffic. 15 menit dengan sepeda. what can i say?

3. variasi kuliner yang menantang di sekitarnya

rawamangun itu surga kuliner. terimakasih tuhan telah menciptakan kelurahan ini di daerah rumah gw hahahaha. ayo mari kesini daripada nyari makan mahal-mahal dan ga enak di tempat lain!!

4. suasananya bersahabat

setiap meter ada yang senyum, nyapa, nyengir, dsb. dibuktikan dengan satpam soka yang mau itu siang,malem,ataupun subuh selalu nyapa gw! haha

5. kamar koass super-eksklusif

yap. mau jungkir balik, tereak-tereak, nyanyi-nyanyi, cerita pasien, bikin preskas, tidur, cabut laporan jaga malem, bisa disini. privasi terjaga dan yang pasti ga ada yang ngganggu. meskipun katanya banyak cerita hantunya hiii…

6. jaga igdnya maknyusss

no offense. bukannya gw ngedoain banyak orang kecelakaan, penyakitan,atau kena kesialan tapi jujur dengan jadwal jaga igd yang banyak dan tenaga terbatas, peran kami jadi sangat penting. entah itu cuma pasang infus atau sampai pungsi pleura, kita diajarkan banyak sekali disini. apalagi dengan hadirnya satu sosok khusus yang rada-rada judes hahahaha.. makin menarik lah jaga igd di RS ini..

7. bebas tindakan!

ada empat checklist wajib yang harus dilakukan semua koass dimari. terapi inhalasi, spirometri, pungsi pleura, dan biopsi jarum halus yang wajib fardhu ain diawasi dan dinilai (hiks). selain itu, bebasbasbasbasbas (asal minta ijin dulu yaaa) hehehehe..

8. koass rasa dokter

“semua yang berjas putih disini adalah dokter” – dr. Prasenohadi

anamnesis, pemeriksaan fisik, follow up, baca hasil, dan diagnosis sendiri, DPJPnya tinggal lihat dan menilai aja. entah kenapa gw merasa berat banget denger kalimat itu. yap, dibalik jas besar tersimpan tanggung jawab besar. kita dididik jadi dokter disini dengan diposisikan sebagai dokter – bukan koass yang observasi doang. gokil..

cukup gue!

Januari 19, 2010

gak kerasa udah 6 bulan gw jadi koass dan sekarang gw udah di stase pulmonologi aja. dan ga kerasa juga gw udah sampai di sebuah rumah sakit khusus infeksi. percayalah mungkin lo semua bakal parno masuk rumahsakit ini sembari menyiapkan masker 3 lapis. haha. tapi nevermind, dimulailah juga stase di rumahsakit ini.

setelah penyambutan oleh komite medik dan lain-lainnya, akhirnya kita sampe juga di acara “follow up pasien”. fyi, kalo kita liat daftar pasiennya, bisa jadi kalian semua cengo/terkejut karena daftar penyakitnya selalu ada akhirannya – blablabla + aids. gw sendiri dapet pasien follow up dengan penurunan kesadaran, tb paru, dan tentunya hiv (+)

oke. followup pasien penurunan kesadaran tidak pernah mengenakkan dan setelah cukup lama anamnesis dan pemeriksaan fisik selesailah pula gw. sayup-sayup kedengeran lah suara temen gw yang lagi edukasi pasien di ranjang sebelah. liat status sebentar, riwayat IVDU (+). oke. gw pun sekonyong-konyong dateng nimbrung

Juno: jadi jangan lupa ya obatnya harus diminum teratur
Pasien: Beres dok
J: Soalnya kalo ga diminum, selain berakibat  nanti saya ngamuk rarr!! (jangan tiru dokter ini di depan ODHA).
P: iya hahaha, dokter bisa aja..
J: (beranjak pergi)

tiba-tiba si pasien memanggil lagi

P:ngomong-ngomong dok, saya bintang film loh..
J: loh kok bisa (ngelantur nih orang,, ckckck)
P: iya, tau film “cukup gue” ga dok? itu saya yang main..
J: ha?

***

oke. buat yang ga tau, cukup gue adalah film indie tentang odha yang bangkit dari keterpurukannya *belum nonton? alhamdulillah gw udah. buat yang belum, cari film festival terdekat! support your local indie movement! hehe*. dan pasien yang terbaring lemas di hadapan gw ini adalah pemeran utamanya. bayangin, pemeran utamanya!

gw ketemu bintang film bok!! well bukan itu sih intinya. tapi kebayang ga sih lo? ketika isi hidup lw yang ga mengenakkan diceritain ke banyak orang dan cerita itu adalah kesalahan masa lalu yang sama sekali bukan bagian yang lw suka. belum lagi stigma masyarakat dan pengobatan. kalaupun lw jadi terkenal karena film itu, itu ga akan menyembuhkan lw dari hiv bukan?  gw sih mungkin bakal mikir-mikir.

tapi pasien ini nggak. dan dengan segala kebesaran hati dia maju dan berserah diri. dengan semua keterbatasan dan rendahnya harapan hidup dia tetap ingin menginspirasi. buat gw itu sesuatu. yang membuat manusia “manusia” adalah ketika dia bisa memberi bukan? to be human is to give.

well, ga ada yang bisa gw lakukan kecuali mendoakan dia, semoga Tuhan menerima amalnya. dan satu lagi, semoga kita semua sadar bahaya hiv mengintai kita semua.

tiap 12 detik satu orang terinfeksi hiv. jangan diem aja!

lama tak menulis

Januari 4, 2010

haha…

ga nyangka ternyata kehidupan perkoassan (baca yang bener! bukan perkosaan tapi per-ko-ass-an) bisa mengganggu kehidupan blogging gw hehe.. sebenarnya udah banyak unek-unek yang udah mau ditulis, terlebih lagi gw ngerasa dapat banyak pelajaran hidup selama menjadi koass baik itu dari pasien, atau dari dokter senior.

tungguina aja gw deket-deket ini akan menulis lagi koq. cheers!

Setelah selesai visite pasien, lembar status pasien itu mulai kuisi di bagian paling atas:

“tuan S, 58 tahun, datang dengan keluhan nyeri kuadran kanan atas abdomen sejak 1 bulan lalu.”

sejenak tulisan tangan gw berhenti. tertegun

***

mari kita lihat mundur sejenak. hari ini adalah orientasi gw di departemen ilmu penyakit dalam RSCM, dengan pemicu edema alias bengkak. setelah rangkaian diskusi yang mencerahkan, akhirnya tiba pula bagian paling serunya: kerja klinik di bangsal.

dari diskusi sebelumnya, gw berhasil mendeterminasi bagaimana cara menyingkirkan keterlibatan organ dalam diagnosis diferensial bengkak; tanyakan sesak, bunyi napas, alergi, riwayat asma, riwayat merokok, riwayat kontak TB,  dll untuk menyingkirkan keterlibatan paru, dst. dari catatan kecil ini gw bersama rombongan scut monkey lainnya ini memberanikan diri meng-anamnesis dan memeriksa fisik salah satu pasien bangsal: tuan S.

setelah selesai, kumpullah kita semua di ruang jaga dokter untuk berdiskusi – membahas hasil anamnesis.

***

tulisan lalu gw lanjutkan ke riwayat penyakit sekarang. Pasien mengeluh berat badannya turun, nafsu makan memburuk, kulit makin menguning, dan bengkak makin buruk di kedua kaki. Pasien  mengeluhkan muntah berwarna merah dan buang air besar berwarna hitam.

Tulisan berlanjut terus hingga pada pemeriksaaan fisik gw harus menuliskan: pitting edema tungkai +/+, caput medusae (+), venektasis (+), hepar lobus dekstra teraba 5 jari di bawah arkus costae, hepar lobus sinistra teraba 4 jari dibawah prosesus xiphoid. terdapat bruit hepar.

gw terdiam kembali, tertengun

***

anamnesis gw masih berantakan. meskipun keterlibatan organ lain sudah disingkirkan, masih kurang beberapa temuan esensial yang harusnya ada pada pasien ini untuk menegakkan diagnosis. tanpa tedeng aling-aling, dokter residen pun menyuruh gw kembali memeriksa pasien. dengan langkah setengah malas, akhirnya gw kembali ke bangsal.

tidak ada senyum yang terkembang, hanya wajah yang tabah mengharap mukjizat.  basa-basi dilancarkan dan akhirnya pemeriksaan yang kurang pun selesai dilakukan. tadinya gw kira sore ini akan gw tutup dengan biasa-biasa aja sampai ketika gw mohon diri ada yang mengait tangan gw. sebuah tangan renta dan isakan terbata-bata

“tolong saya dok, saya ingin sembuh dan tetap hidup!”

***

satu setengah jam. gw ga pernah menghabiskan waktu selama ini untuk melengkapi status pasien. setengahnya lebih gw habiskan untuk merenung, selalu terngiang pesan dokter residen sebelum gw kembali memeriksa pasien ini;

“Berlaku baiklah sama pasien ini, dia didiagnosis hepatoma stadium lanjut. Sisa hidupnya tidak akan lebih dari dari 2 bulan.

***

(dari catatan semasa orientasi klinik, FCP RSCM, september lalu)