halo, jarang-jarang saya mengupdate blog ini. jadi, saya berniat menyewakan apartement saya, dengan alasan sederhana: unit ini sudah terlalu kecil untuk keluarga kami yang semakin besar. so we’re moving out to seek ground house.

saat dibeli, awalnya 2 kamar tidur, namun karena namanya masih muda, jadi kami renovasi menjadi 1 kamar tidur, dengan space yang lapang untuk ruang tv dan makan. eh ternyata kami kedatangan anugerah mahaindah dari Gusti Allah, berbentuk cikimil, hehe. seperti yang klen tau, cah lanang umur 2 taun adalah mesin lari-panjat-goleran dengan batre gambot. perlahan pun unit yang dulu kami bingung mengisinya bagaimana, jadi terasa begitu sempit.

unit ini sudah kami renovasi kembali, jadi tidak perlu khawatir akan melihat prakarya kiko di dinding, atau pe-er2 kecil yang merepotkan. sehingga diharapkan, siapapun yang akan kami titipkan unit kami kepadanya bisa tinggal lebih nyaman.

so, here it is. untuk disewakan 1 (satu) unit apartemen di Menteng Square, view jalan matraman raya (barat daya). berikut speknya:

Luas 33 m2
1 bedroom
1 bathroom (dengan water heater)
1 living room
1 kitchen
1 balkon/gudang

termasuk di dalamnya fasilitas yang didapat:
access card(1x)
air conditioner 1 pk (2x)
kitchen set (1x)
bed (ikea), single but expandable to queensize (1x), ranjang kami ya kami bawa lah yauw, terlalu banyak peristiwa terekam di sana hahaha.
– lemari baju (ikea)(1x)
– lemari-rak TV (1x)

sedikit penampakan:

lantas, kenapa di menteng square? simply because:
security 24 jam
parking area
– lapangan badminton
swimming pool
– minimarket
– area komersil dan atm (bca, mandiri, bni)
– akses transportasi: 290m ke halte transjakarta matraman, 1km ke stasiun commline kramat, 2km ke stasiun commline manggarai
– akses sekolah: 500m ke kompleks sekolah sdn kenari, smpn 216, sman 68, 1 km ke ui salemba, upi yai, gunadarma, uki
– mall dan belanja: 1km ke plaza kenari mas dan pasar paseban, 2km ke gramedia matraman, 3km ke plaza atrium senen, 4km ke plaza indonesia dan grand indonesia
– rumah sakit: 1km ke rscm, 1km ke st. carolus, 3km ke puskesmas kenari.

apartemen ini rencana kami sewakan sesuai yang tertera di atas dengan harga:
bulanan : Rp. 3.500.000,00
tahunan : Rp. 36.000.000,00
*nett price.
**exclude maintenance, electricity and water installment fee

jika berminat, monggo hubungi:
juno alias saya sendiri 0896*3621*6552 (wa aja, takutnya pas telfon saya sedang steriel)
atau email langsung ke ibu negara (merangkap treasurer dan prime minister) di falla_adinda(at)yahoo(dot)com

terima kasih sudah membaca, syukur2 minat atau menyampaikan ke temannya yang sedang mencari sewa apartemen.

matur sembah nuwun.

tentang berdoa

Agustus 17, 2016

ada yang bilang Tuhan serupa kekasih yang menanti kita, pasangan kurang ajar yang kebanyakan lupa padaNya.misuh-misuh sebal. tapi yang lucunya, tertatih kita datang, berlari Dia menyambut. merayu kita picisan, menyender Dia menggelayut.

saya percaya bahwa berdoa tidak mesti dengan bahasa tertentu dan penggunaan bahasa tertentu tidak akan menentukan suatu doa lebih mungkin dikabulkan atau tidak. saya tidak pernah suka doa yang mengancam, yang di dalamnya menguntai kata-kata siksa atau pembalasan karena doa adalah salah satu cara kamu berbicara empat mata dengan Tuhan. dan sepantasnya kamu sedang berduaan dengan yang maha terkasih, sudikah berbicara denganNya dengan cela kata, cela nada, dan cela suara?

rima akhir pada doa menteri agama pada hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan di istana negara, 17 agustus 2016 pagi lalu

sutiksna usada, sudarma marga

**

just like another education field, every profession has their own stereotype among each other. as for us doctor, quite exceptional that surgeons were adhered to un-doctor stuff: alpha arrogant, half-athlete, party-drunkard, dare-devil, heavy spenders, etc. above all, surgeons rock unlike those of gleeish intmed bollocks. and when you’re trapped in a field full of bookworms and preps with straightforward life, seeing bunch of people that enjoys living was rather joyous. it was attracting and rather, inviting.

most of us push our brains to the limit in the written exams, in the interview, try ourselves even harder in the osce’s, only to be acknowledged as one amongst their ranks. it’s funny now after i’m an orthopaedic resident, i hardly recognise myself on why i should be ortho & trauma surgeon at the very beginning. no, seriously, i lost my words when asked reasons why i should be one. instead, i might gave you thousands reasons why i should quit. 

it was hard by nature, even harder by the hierarchy. the system required you to suffer to your lowest point of your life. shift schedule was there but not really there as you’re obliged to stay at hospital as long as it must, leaving your loved ones home. your respond time was metered and you must always be available on the phone or im. you’re posed with long operation hours – most of which are done standing and of course, stressful.

handling patient means you work something with your hand, not depending on the drugs solely. the lives of your patient lingers on your hands, along with their joy and sorrow, as bloods might be spilled like water in a fountain when you cut open. it was not a game where you can reboot and remake your decision. you are to be in control of everything, you’re a solid rock — unshaken, unaffected by emotion. you can not miss anything, not single anatomical structure or a bandage inside someone’s pelvis.

it’s so irrational that i haven’t got any of resignation letter on the chief’s desk, given all of those major turndowns, but for one thing: 

i know i love the thrills.

menghargai batasan

Desember 8, 2015

A: seorang teman yang rada bijak pernah bilang penghargaan tertinggi yang diberikan seorang manusia pada mantan kekasihnya adalah menyingkir seutuhnya dari hidupnya.

J: *berpikir keras* gimana?

*

ada hal lucu tentang hidup yang suka atau tidak mesti kita akui bahwa kebanyakan aturan tidak pernah terfisik dalam lembaran bahasa beku. tidak dalam bentuk kitab suci atau kitab undang-undang. oleh karena itu batasan pantas tidak pantas, benar tidak benar suatu musabab selalu dikembalikan pada nilai-nilai yang berlaku pada area tersebut, atau paling tidak kesepakatan pihak yang terlibat.

ah iya, batasan. tidak pernah ada yang melihat pagar di selat channel namun kita tahu mana perairan prancis mana perairan inggris. kita mestinya bisa memahami ide yang lebih abstrak dari itu. memahami bahwa ada batasan yang terbedakan dan tak bijak bagi kita melampauinya. berapa banyak lantas hubungan yang tadinya baik-baik saja lantas berubah karena ada batasan yang terlanggar? – universally speaking.

**

A: setiap orang berhak menemukan ketenangannya jun, een rustige leven. semua yang udah selesai jangan diliat-liat lagi, udah masuk kotak.

J: iya sih. tapi mestinya bisa kok get along well.. kita kan udah gede, udah bisa berpikir dengan lebih jernih..

A: yakin?

***

kita selalu memberi aturan main dalam suatu hubungan tanpa pernah peduli bagaimana pada hubungan yang sudah selesai. entah sudah kadaluarsa, entah tidak menarik, tapi entah bagaimana semua selalu punya suara yang sama. memberikan definisi kaku untuk sebuah postulat yang sangat longgar. lucu sekali mengetahui bahwa hampir tiap manusia seakan telepati massal menyepakati hal ini.

memang tidak sepenuhnya salah, saya pun tidak menolak pendapatnya, tapi tentu kelonggaran macam itu  membutuhkan prasyarat. kedewasaan dan pemahaman penuh bahwa ini bukan lagi perkara anak kuliahan batu putus cinta yang pas bubar masih mengumbar perhatian atau onani ego dengan sugesti superioritas di atas hubungan yang sudah usai. pengertian bahwa selonggar apa pun, ada batasan yang tidak bisa dilewati lagi; ring satu yang tak etis ditembus. pertanyaannya, sudah siap kah kamu menerima kenyataan bahwa tidak semua orang mencapai ke tersebut?

lagipula, setiap luka selalu menjawab belati yang menyadap darahnya. dan siapa yang pernah saling menorehkan luka, tiap jeritan dan tangisnya menjelma tiap kau melihat parutnya, bukan?”