sutiksna usada, sudarma marga

*

just like another education field, every profession has their own stereotype among each other. as for us doctor, quite exceptional that surgeons were adhered to un-doctor stuff: alpha arrogant, half-athlete, party-drunkard, dare-devil, witty lovers, playful cheaters, heavy spenders, etc. above all, surgeons rock unlike those of gleeish intmed bollocks. and when you’re trapped in a field full of bookworms and preps with straightforward life, seeing bunch of people that enjoys living was rather joyous. it was attracting and rather, inviting.

most of us push our brains to the limit in the written exams, in the interview, try ourselves even harder in the osce’s, only to be acknowledged as one amongst their ranks. it’s funny now after i’m an orthopaedic resident, i hardly recognise myself on why i should be ortho & trauma surgeon at the very beginning. no, seriously, i lost my words when asked reasons why i should be one. instead, i might gave you thousands reasons why i should quit.

it was hard by nature, even harder by the hierarchy. the system required you to suffer to your lowest point of your life. shift schedule was there but not really there as you’re obliged to stay at hospital as long as it must, leaving your loved ones home. you are never at ease, because when you are, chief will give you extra work just to see you suffer. your respond time was metered and you must always be available on the phone or im. you’re posed with long operation hours – most of which are done standing and of course, stressful.

handling patient means you work something with your hand, not depending on the drugs solely. the lives of your patient lingers on your hands, along with their joy and sorrow, as bloods might be spilled like water in a fountain when you cut open. it was not a game where you can reboot and remake your decision. you are to be in total control of everything, you’re a solid rock — unshaken, unaffected by emotion. you can not miss anything, not single anatomical structure or a bandage inside someone’s abdomen oror pelv.

it’s so irrational that i haven’t got any of resignation letter on the chief’s desk, given all of those major turndowns, but for one thing:

i know i love the thrills.

Iklan

menghargai batasan

Desember 8, 2015

A: seorang teman yang rada bijak pernah bilang penghargaan tertinggi yang diberikan seorang manusia pada mantan kekasihnya adalah menyingkir seutuhnya dari hidupnya.

J: *berpikir keras* gimana?

*

ada hal lucu tentang hidup yang suka atau tidak mesti kita akui bahwa kebanyakan aturan tidak pernah terfisik dalam lembaran bahasa beku. tidak dalam bentuk kitab suci atau kitab undang-undang. oleh karena itu batasan pantas tidak pantas, benar tidak benar suatu musabab selalu dikembalikan pada nilai-nilai yang berlaku pada area tersebut, atau paling tidak kesepakatan pihak yang terlibat.

ah iya, batasan. tidak pernah ada yang melihat pagar di selat channel namun kita tahu mana perairan prancis mana perairan inggris. kita mestinya bisa memahami ide yang lebih abstrak dari itu. memahami bahwa ada batasan yang terbedakan dan tak bijak bagi kita melampauinya. berapa banyak lantas hubungan yang tadinya baik-baik saja lantas berubah karena ada batasan yang terlanggar? – universally speaking.

**

A: setiap orang berhak menemukan ketenangannya jun, een rustige leven. semua yang udah selesai jangan diliat-liat lagi, udah masuk kotak.

J: iya sih. tapi mestinya bisa kok get along well.. kita kan udah gede, udah bisa berpikir dengan lebih jernih..

A: yakin?

***

kita selalu memberi aturan main dalam suatu hubungan tanpa pernah peduli bagaimana pada hubungan yang sudah selesai. entah sudah kadaluarsa, entah tidak menarik, tapi entah bagaimana semua selalu punya suara yang sama. memberikan definisi kaku untuk sebuah postulat yang sangat longgar. lucu sekali mengetahui bahwa hampir tiap manusia seakan telepati massal menyepakati hal ini.

memang tidak sepenuhnya salah, saya pun tidak menolak pendapatnya, tapi tentu kelonggaran macam itu  membutuhkan prasyarat. kedewasaan dan pemahaman penuh bahwa ini bukan lagi perkara anak kuliahan batu putus cinta yang pas bubar masih mengumbar perhatian atau onani ego dengan sugesti superioritas di atas hubungan yang sudah usai. pengertian bahwa selonggar apa pun, ada batasan yang tidak bisa dilewati lagi; ring satu yang tak etis ditembus. pertanyaannya, sudah siap kah kamu menerima kenyataan bahwa tidak semua orang mencapai ke tersebut?

lagipula, setiap luka selalu menjawab belati yang menyadap darahnya. dan siapa yang pernah saling menorehkan luka, tiap jeritan dan tangisnya menjelma tiap kau melihat parutnya, bukan?”

sikap politik

Juni 27, 2014

sebagai mahasiswa, saya selalu memegang prinsip bahwa netral adalah sebaik-baiknya posisi dalam politik. netral di sini artinya tidak berperan aktif sebagai simpatisan atau menunjukkan keberpihakan kepada khalayak luas melalui media konkrit atau media maya. kamu bebas untuk mengritisi siapa pun, tanpa harus takut diserang karena keberpihakan kita. kalau pun mesti berpihak, maka saya hanya akan berpihak pada kepentingan rakyat dan idealisme perjuangan.

sikap tersebut sedikit banyak tidak berubah setelah saya menjadi dokter. menjadi pelayan kesehatan bagi masyarakat berarti apa pun program yang dijalankan oleh siapa pun yang terpilih akan kami dukung. kesetiaan kami berletak pada pasien dan tri darma, seperti yang diajarkan oleh guru-guru kami.

saya berjanji untuk apa pun keadaannya akan selalu bersikap seperti itu.. tapi kelihatannya tidak untuk pilpres kali ini.. mesti kita buat suatu pengecualian..

kedua kandidat punya visi-misi yang tak jauh berbeda, kedua kandidat ada didukung oleh pihak-pihak yang kurang-lebih busuknya sama, punya kapasitas kepemimpinan yang tidak jauh berbeda: yang satu di sipil, yang satu di militer. tapi ada yang membedakan kedua kandidat: yang satu tidak pernah punya cela masa lalu dan ikatan dengan rezim penuh darah dari masa lalu, sementara yang satu punya, bahkan mungkin pelaku utamanya (karena tidak pernah dibuktikan bukan di suatu mahkamah terbuka).

ketika menjadi netral adalah berpihak pada salah satu kandidat, maka saya sadar penuh bahwa membiarkan salah satu kandidat lain menang adalah ancaman nyata bagi idealisme yang saya pegang teguh pada kesempatan-kesempatan sebelumnya: kemerdekaan berpendapat, berekspresi, atau yang lebih luas,

kemerdekaan bermanusia.

bismillah.

kepada kamu,
yang mungkin merasa surat ini ditujukan untukmu,

apa kabar? ah, sapaan ini terasa begitu klise. padahal sebelumnya kita cukup bertemu pandang, saling bersentuh kulit, untuk mengetahui masing-masing baik-baik saja. tapi saya sungguh-sungguh dengan pertanyaan ini. ada episode lama tak pernah berkabar, berbumbu buang muka, senyum masam, dan mungkin satu-dua desau. semacam saling menikam, mencengkam pada layar yang setengah berdiri di belakang.

manusia itu makhluk yang absurd bukan? selalu merayakan pertemuan tapi mengutuk perpisahan, mendamba ikatan tapi menyerapahi lepasan. padahal kita tahu Tuhan menciptakan benda berpasang-pasangan, tidak pernah sendirian. kita berharap hubungan yang hanya akan terpisah maut, tapi ketika tidak berjalan seperti yang kita inginkan, kita mulai menyumpahi semua hal. kita, waktu, tempat, keadaan, dan Tuhan. entah apa yang kita mau, lalu kita berpisah seperti orang yang tidak (mau) kenal satu sama lain lagi.

kita sudah hidup dengan kehidupan kita masing-masing. kamu dengan keluarga kecilmu pun aku dengan keluarga kecilku, dengan jalan yang kita ingini betul. hidup yang mungkin sempat kita bayangkan bersama, tapi dengan sedikit modifikasi alur: kita berjalan berlawanan arah. meninggalkanmu akhirnya adalah keputusan yang saya syukuri dan saya yakin juga kamu melakukan yang sama. kita berdua pernah muda dan naif, pernah beranggapan hidup adalah panggung dengan naskah drama kita sendiri. lupa bahwa menemukan yang tepat tidak berarti membenci mereka yang pergi, mereka yang bukan.

bukan. surat ini bukan permintaan maaf. hanya ajakan minum teh sore bersama, dengan daun teh yang takkan pernah diseduh.