tentang berdoa

Agustus 17, 2016

ada yang bilang Tuhan serupa kekasih yang menanti kita, pasangan kurang ajar yang kebanyakan lupa padaNya.misuh-misuh sebal. tapi yang lucunya, tertatih kita datang, berlari Dia menyambut. merayu kita picisan, menyender Dia menggelayut.

saya percaya bahwa berdoa tidak mesti dengan bahasa tertentu dan penggunaan bahasa tertentu tidak akan menentukan suatu doa lebih mungkin dikabulkan atau tidak. saya tidak pernah suka doa yang mengancam, yang di dalamnya menguntai kata-kata siksa atau pembalasan karena doa adalah salah satu cara kamu berbicara empat mata dengan Tuhan. dan sepantasnya kamu sedang berduaan dengan yang maha terkasih, sudikah berbicara denganNya dengan cela kata, cela nada, dan cela suara?

rima akhir pada doa menteri agama pada hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan di istana negara, 17 agustus 2016 pagi lalu

Iklan

berjaga

Juli 14, 2016

kami bersenyum di tengah senda gurau kalian,
yang di tempat hangat dan dekat sentuh keluarga
yang kami tatap layar telepon genggam
empat mata mengharap ada bapa

kami berjingkat di tengah tidur kalian,
yang di tempat tenang dan sunyi pekat
yang kami tiup dalam terompet kerja
roda brankar bergemeratak

tidak ada ave maria ini malam
tidak untuk mujur yang kadang alpa
maka peluk-peluklah kami yang terikat sumpah
kalian tahu; dalam dada kami
rindu penuh umpah

(malam lebaran, 2016)

kepada kamu,
yang mungkin merasa surat ini ditujukan untukmu,

apa kabar? ah, sapaan ini terasa begitu klise. padahal sebelumnya kita cukup bertemu pandang, saling bersentuh kulit, untuk mengetahui masing-masing baik-baik saja. tapi saya sungguh-sungguh dengan pertanyaan ini. ada episode lama tak pernah berkabar, berbumbu buang muka, senyum masam, dan mungkin satu-dua desau. semacam saling menikam, mencengkam pada layar yang setengah berdiri di belakang.

manusia itu makhluk yang absurd bukan? selalu merayakan pertemuan tapi mengutuk perpisahan, mendamba ikatan tapi menyerapahi lepasan. padahal kita tahu Tuhan menciptakan benda berpasang-pasangan, tidak pernah sendirian. kita berharap hubungan yang hanya akan terpisah maut, tapi ketika tidak berjalan seperti yang kita inginkan, kita mulai menyumpahi semua hal. kita, waktu, tempat, keadaan, dan Tuhan. entah apa yang kita mau, lalu kita berpisah seperti orang yang tidak (mau) kenal satu sama lain lagi.

kita sudah hidup dengan kehidupan kita masing-masing. kamu dengan keluarga kecilmu pun aku dengan keluarga kecilku, dengan jalan yang kita ingini betul. hidup yang mungkin sempat kita bayangkan bersama, tapi dengan sedikit modifikasi alur: kita berjalan berlawanan arah. meninggalkanmu akhirnya adalah keputusan yang saya syukuri dan saya yakin juga kamu melakukan yang sama. kita berdua pernah muda dan naif, pernah beranggapan hidup adalah panggung dengan naskah drama kita sendiri. lupa bahwa menemukan yang tepat tidak berarti membenci mereka yang pergi, mereka yang bukan.

bukan. surat ini bukan permintaan maaf. hanya ajakan minum teh sore bersama, dengan daun teh yang takkan pernah diseduh.

mantra

Oktober 30, 2013

“.. rather than to read, it’s more mystical to listen to it read (by other)”

beberapa waktu lalu saya berdiskusi masalah kearaban mushaf quran dan mengapa sebuah mushaf quran harus dibukukan tetap dalam bahasa waktu diturunkannya: bahasa arab “langit”. boleh diberikan terjemah, tapi tidak boleh dialihbahasakan ke bahasa indonesia, bahasa inggris, bahkan ke bahasa arab modern. tidak saya tidak akan berbicara tentang keislaman atau hal-hal ‘langit’ membosankan lainnya, saya ingin berbicara tentang anugerah tuhan terbesar untuk manusia: bahasa.

 

*

kata: awal mulanya

semesta berawal dari kata. tuhan memula-(kenal)kan dirinya melalui kata. hidup kalian adalah sekumpulan peluang yang dirangkai oleh kata-kata. singkat kata: kita kembali pada kata.

ada yang membedakan antara malaikat dengan manusia. malaikat berbicara antar-mereka melalui kata-kata yang tuhan mereka ilhamkan ke benak mereka. homogen. bagaimanapun, manusia mengambil cara lain. melalui perantara alam mereka merangkai (lebih tepat meniru) bunyi demi bunyi,  jargon demi jargon, ujaran demi ujaran, pecahan demi pecahan, kata demi kata untuk saling mengatai satu sama lain, menamai satu sama lain. alam juga yang kemudian membentuk kata-kata yang dimuntahkan manusia sesuai dengan karakter alamnya sendiri.

**

bahasa: 

manusia tahu, kata sendiri tidak akan mempunyai makna komunikatif. mereka merangkainya oleh undang yang juga tidak bisa kita pahami bermulanya, lalu bum! jadilah bahasa, cucu kandung alam. kita tidak akan pernah bisa menyetarakan bahasa-bahasa yang ada di dunia, tapi juga tidak bisa memeringkatkan bahasa-bahasa ke dalam klasemen. setiap bahasa memiliki kesepiannya sendiri.

anda merasa ketegasan dan keteraturan mendengar bahasa jerman, sesuai dengan tatar jermania yang begitu. anda merasa kekakuan, formalisme, dan kerunutan mendengar bahasa jepang, sesuai dengan kontur jepang yang begitu. anda merasa kedinginan, kerumitan mendengar bahasa rusia, sesuai dengan alam rusia yang begitu. sangat sulit menilai jerman dengan segenap budayanya, tanpa memahami bahasanya, pun juga pada jepang, rusia, dan bahasa lainnya.

bahasa adalah mantra yang membuka keterikatan gaib kita dengan alam. seperti halnya mantra, bahasa mampu membangkitkan romanya sendiri, entah erotisme atau bahkan mistisisme. semakin luas bahasa yang kamu kuasai, semakin luas cakupan pengenalanmu dengan manusia dan rumahnya. dan seperti halnya mantra, bahasa hanya akan mati jika dibekukan dalam teks-teks sakramen. dia butuh dilafadzkan, diperdengarkan dalam bentuk terindahnya.

pada akhirnya kecintaanmu, syukurmu, keberikatanmu terbesar pada alam semesta tercermin dari bagaimana kamu memaknai bahasamu sendiri. sudah sejauh mana?

***

silakan kembalikan konklusi terakhir pada pengantar di awal narasi. selamat hari sumpah pemuda.