sutiksna usada, sudarma marga

**

just like another education field, every profession has their own stereotype among each other. as for us doctor, quite exceptional that surgeons were adhered to un-doctor stuff: alpha arrogant, half-athlete, party-drunkard, dare-devil, heavy spenders, etc. above all, surgeons rock unlike those of gleeish intmed bollocks. and when you’re trapped in a field full of bookworms and preps with straightforward life, seeing bunch of people that enjoys living was rather joyous. it was attracting and rather, inviting.

most of us push our brains to the limit in the written exams, in the interview, try ourselves even harder in the osce’s, only to be acknowledged as one amongst their ranks. it’s funny now after i’m an orthopaedic resident, i hardly recognise myself on why i should be ortho & trauma surgeon at the very beginning. no, seriously, i lost my words when asked reasons why i should be one. instead, i might gave you thousands reasons why i should quit. 

it was hard by nature, even harder by the hierarchy. the system required you to suffer to your lowest point of your life. shift schedule was there but not really there as you’re obliged to stay at hospital as long as it must, leaving your loved ones home. your respond time was metered and you must always be available on the phone or im. you’re posed with long operation hours – most of which are done standing and of course, stressful.

handling patient means you work something with your hand, not depending on the drugs solely. the lives of your patient lingers on your hands, along with their joy and sorrow, as bloods might be spilled like water in a fountain when you cut open. it was not a game where you can reboot and remake your decision. you are to be in control of everything, you’re a solid rock — unshaken, unaffected by emotion. you can not miss anything, not single anatomical structure or a bandage inside someone’s pelvis.

it’s so irrational that i haven’t got any of resignation letter on the chief’s desk, given all of those major turndowns, but for one thing: 

i know i love the thrills.

Iklan

disindir Londo! hehe

April 3, 2009

pada suatu hari gw mengikuti siang klinik (semacem meeting membahas topik kesehatan klinik tertentu) di RSCM, gw diundang kodik gw – wow banget kan gw yang seumur bawang gini ngikutin topik klinisi, hahaha.. gw diminta untuk bertemu dengan profesor verburgh dari belanda karena gw dipandang berminat oleh fakultas terhadap studi ke belanda hoho (nyombong!). Karena gw ga ngerti topik apa yang diomongin, ya duduklah gw di siang klinik itu paliiiing belakang

Dari ga niat mendengarkan, suka ga suka akhirnya gw mantengin omongannya, yang ternyata tentang integrasi mikrobiolog dalam pengobatan rasional. Debat panjang terjadi karena menurut si profesor belanda dan beberapa kolega mikrobiolog FKUI berkeras bahwa integrasi mikrobiologi klinik dalam terapi farmakologi pasien sangat vital. Si prof Verburgh bahkan sempat menyatakan bahwa sistem kesehatan di Indonesia hanya menyebabkan makin banyak strain resisten – gara-gara penggunaan obat asal-asalan gitu..

Walhasil konsulen IPD, kulit, paru, dll. meradanglah! Gimana nggak? kerja susah payah di RS paling yahud sejagat Indonesia ini cuma dibilang gitu sama londo. Debat makin panas dan akhirnya gw memperhatikan dengan seksama. Lucu aja gw ngeliat klinisi beradu argumen, pake bahasa Inggris setengah mateng pulak! berikut cuplikannya.

(mari kita makan konyaku penerjemah doraemon terlebih dahulu agar tulisan berbahasa Inggris saya terlihat bahasa Indonesia dimata anda.. hehe)

Prof Verburgh (PV) : Sistem Indonesia itu sendiri yang harus merestorasi diri, masalah resistensi S.aureus saja bisa tidak terkendali begitu…
Klinisi (K) : Namun itu bukan berarti mikrobiologi klinik harus dijadikan elemen utama secepat itu, kita bekerja dengan sistem yang ada dengan segala keterbatasan biaya kesehatan, jika program yang meneer maksud harus diimplementasikan secepatnya di Indonesia, bisa-bisa tidak jalan kesehatan di daerah! (dana kesehatan kita sentralistik lho, semenjak jamkesmas dibuat)
PV : (setengah dipotong) Bukan hanya itu pulak, ketika saya melihat denah mikrobiologi yang terpisah jauuh dari bangunan RSCM, saya makin yakin bahwa sistem pengelolaan bakteri di sini kurang baik! Masa, pasien dirujuk ke lab lain? lab anda sangat underlevel (bahasa inggris apa ini meneer!!!! inggris bukan belanda yang bisa digabung-gabung.. hehe) sekali!
K : Jadi sekarang kita harus membentuk lab selevel di negara anda?! itu apalagi susahnya! dapet darimana dana sebanyak itu!!
PV : mana saya tahu! kalian bukan negara miskin seperti di afrika gitu! saya hanya dua kali ke butik Bottega Venneta, satu di Amsterdam, satu lagi tebak dimana? di Senayan city! itu kan butik bukan main-main! masa pangsa pasar itu bisa ada di Indonesia, dan kalian tidak bisa memberesin laboratorium mikrobiologi kalian?
K : (merah padam seperti kepiting rebus, disertai giggle-giggle durjana..)
Herjuno Ardhi (HA) : HUAKAKAKAKAKAK….

Yang gw salutin, setelah debat panjang, ada beberapa kemungkinan kerjasama yang mungkin dijajaki. Jadi orientasi solusi dari debat tidak tercederai, bahkan justru menambah kebaikan RSCM sebagai rumahsakit pulak.. hoho salut-salut! mudah-mudahan, ga cuma sistem kesehatan Indonesia aja yang berbenah dan jadi lebih baik! sistem lain juga=)

Tapi sumpah, gw ga bisa nahan ketawa pas si profesor itu ngocol dengan ngebahas senayan city, hahahaha