Netherlands revival

Juni 18, 2008

Hmm, sebenernya ini tulisan iseng-iseng aja mau mengomentari kemenangan Belanda atas Italia (ihiy, gefeliciteerd jij oranje!!) 3-0 tadi malem.. Kelihatan banget evolusi sepakbola Belanda dari masa-masa yang lalu sampai akhirnya ke era Van Basten yang mampu memukul juara dunia Italia dengan skor gak main-main, tiga gol tanpa balas.. Yah sekali-kali, ngbahas negara kumpeni ini gak pa pa lah ya,, gw masih nasionalis ini,, hehe

European Champion 1988 – 4th place Coupe du Monde 1998

Kenapa Piala Eropa gw pilih sebagai titik pertama acuan tulisan ini? simpel aja, itu adalah waktu terakhir Belanda menang turnamen besar. MEskipun waktu itu Belanda tampil biasa aja di group stage, pada knock out stage, mereka justru tampil kesetanan sampai akhirnya jadi juara. Komposisi belanda didominasi oleh pemain mid20an, dengan sebagian pemain di atas 30 tahun. Total Voetbal a la Cruijff jadi tontonan atraktif pemilik televisi taun kelahiran gw.. hoho

Selepas juara, belanda sempat mengalami postchampion syndrome sebelum akhirnya mengalami stagnansi. Di piala dunia 1990, belanda masih dengan semangat 88nya mengejar piala dunia, tapi sayang insiden ludah pas babak kedua melawan jerman menutup perjuangan Belanda, hal serupa juga dialami waktu Euro 1992 yang masih lebih mending lolos sampai semifinal. Piala DUnia 1994 dan Euro 1996 hanya menempatkan Belanda di perempat final.

Mungkin karena faktor regenerasi yang belum menghasilkan komposisi klop makanya Belanda susah banget mengejar prestasi di level regional maupun dunia. Masuknya Aaron Winter, Patrick Kluivert, dan Dennis Bergkamp belum bisa mengubah dominasi pemain tua hingga akhirnya sampailah pada Piala Dunia 1998. Waktu itu semua pemain Belanda mengalami kematangannya hingga banyak yang bilang, tahun 1998 adalah tahunnya Belanda.

Waktu itu gw masih inget banget starting XInya..

Van der Sar, Michael Reiziger, Jaap Stam, Frank de Boer, Arthur Numan, Philip Cocu, Edgar Davids, Dennis Bergkamp, Marc Overmars, Patrick Kluivert, Boudwijn Zenden

yap, banyak yang mengira, formasi ini adalah yang paling ideal untuk juara tapi lagi-lagi Belanda keok di semifinal, kalahnya sama Brazil pula yang dibantai 3-0 di final sama prancis,, hadud

Setelah itu sampai Euro 2008

Kalah di PD 1998, Belanda mengalami stagnansi gila2an, puncaknya waktu mereka gagal lolos ke Piala Dunia 2002. Waktu itu gw sempet bingung, apa ni negara dikutuk gara2 tiga setengah abad ngejajah Indonesia ya? hehe, di tengah kekecewaan itu, dan permainan yang gak berkembang2 bahkan lebih mengarah ke possessive football, tiba-tiba gw dicengangkan di tahun 2003 ketika Belanda memanggil pemain2nya yang masih belasan tahun buat melawan Jerman (seperti biasa, tim tua Jerman itu.. haha).. Gw sempet mikir, ni negara udah nyerah apa ya? tapi ternyata hasilnya diluar dugaan, hasil akhirnya justru imbang! dari pertandingan inilah, muncul generasi baru yang anggotanya ada Sneijder, Venegoor of Hesselink, Robben, van der vaart, Heitinga, Huntelaar, Stekelenberg, van Persie.

Perkembangan permainan mereka luar biasa banget, Meskipun di Euro 2004 dan World Cup 2006 yang penuh dengan keantiklimaksan, mereka lagi-lagi kalah. nah sekarang udah 2008, harusnya mereka semua udah matang dan bisa diukur dengan juara turnamen!

Mari kita lihat, di babak Kualifikasi Euro, mereka menjadi juara grup dengan tidak pernah kalah. Lanjut, di babak grup C yang kata orang grup neraka, Mereka justru mengalahkan Italia 3-0, Prancis 4-1, dan Rumania 2-0 (lapis kedua malah). Yang menjadi catatan adalah, mereka tidak memainkan pola klasik 4-3-3 mereka tapi malah 4-2-3-1 yang mirip dengan formasi Italia,dan gol-gol mereka semua dihasilkan oleh counter attack (baca: kerja sama tim) yang rapi atau skill individu yang bisa dipertanggungjawabkan. Gak keliatan tuh Robben yang lari sendirian, Nistelrooij yang nendang asal-asalan, posesif futbol yang bikin orang males nonton bola. Bola mengalir terus dan permainan pun jadi enak untuk ditonton.

Kalo disimpulkan ada faktor yang membuat permainan meneer2 ini jadi bagus. pertama, adanya penyerang yang dimainkan adalah tipe bomber yang bisa dijadikan post player, yaitu Van Nistelrooij, Huntelaar, dan Jan Venegoor of Hesselink. kedua, lapis keduanya (baca: bahasa winningnya Second Top, hehe) terdiri dari Offensive Midfielder yang bisa berperan ganda, winger sekaligus penyerang lubang. Diperankan dengan baik oleh Robben, Van der vaart, Sneijder, van Persie, Kuijt, Babel, dll. ketiga, Holding midfielder raksasa ato paling nggak yang berbodi besar yang dari dulu gak pernah Belanda punya setelah Gullit. masa holding midfielder badannya segede Winter 172cm, ato Davids 168cm, Ronald De Boer 174cm, Cocu 174cm ya susah ngembangin permainan lah, orang bolanya gampang kerebut. di sini ada Engelaar, dan De Zeeuw, keempat pola permainannya memungkinkan counter attack yang rapi, atau bahkan permainan menusuk yang keren juga.

kalo konsistensi ini bisa terus dipertahankan, siapa tau Belanda bisa mengulang sejarah 20 tahun lalu? siapa tahu, sekalian memenuhi haus gelar tuh!! sekarang waktunya membuktikan bahwa Belanda bukan “Champion without crown” haha

Iklan