dari luar perbatasan

Agustus 14, 2011

“di Indonesia ini semuanya udah gak bener, dan hidup di sini bisa membuat kalian semua kebawa arus gak bener yang bakal bikin kalian gak bener. jadi mungkin emang paling bener kalian semua tuh sempat merasakan belajar ke luar negeri biar rada bener sedikit.”
(damayanti rusli sjarif, kuliah nutrisi dan metabolik anak, 2011)

**

dari kecil ibu selalu meng-encourage gue untuk menguasai banyak bahasa. waktu kecil kelas tiga sd gue udah dianterjemput bolak balik ppb fsui (waktu itu masih sastra) untuk les bahasa inggris. gue berontak karena pada waktu itu gue lebih suka main tamiya dan gundu bareng temen2 kompleks alih-alih les bahasa inggris – sesuatu yang tidak lazim dan tidak dilakukan temen sebaya pada waktu itu. les tetap dilanjutkan sampai smp, bahkan ibu kemudian memperkenalkan bahasa jepang dan bahasa jerman. itu belum ditambah dengan keinginan dia agar gue nambah baca-baca bahasa belanda juga.

kadang gue suka bingung dengan kelakuan ibu gue sendiri, pada waktu itu, yang keukeuh ngejejelin gue dengan beragam bahasa aneh. kadang menggerutu karena bosan mendengar nasihat yang sama tiap kali bilang males ngelanjutin. buat apa coba ngerti “hajimemashite” atau “das ist gross” kalo ga ada yang dijadiin lawan bicara? tapi ibu selalu optimis itu semua akan berguna.

dari kecil eyang selalu cerita tentang masa mudanya ketika pada zaman orde lama dia melanglang eropa. selalu dengan campur-campur bahasa indonesia-jawa-belanda dan disertai selipan pesan yang sama kamu harus melihat dunia, kamu harus sekolah setinggi-tingginya kalau bisa sampai melanggar batas negara. dia selalu mengajarkan untuk jangan malu bermimpi setinggi-tingginya.

kadang gue suka kepikiran, saat ini, kalau gue ga punya ibu dan eyang yang ngotot kayak gitu, apa gue (dan adik gue) bisa sampai di sini ya? bisa di tempat yang berbeda zona waktunya, di tempat yang mereka bicara bahasa selain bahasa Indonesia dan inggris, dimana gue ngerti bahasa mereka dan bisa bicara bahasa mereka, di tempat yang bisa menghadirkan rasa rindu tanah air, di tempat yang bisa menegaskan arti kata rumah?

alhamdulillah. untuk semuanya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s