sajak laut
Februari 27, 2009
Tidak ada yang pernah mengerti
Apa yang laut katakan pada pantai
melalui ombak-ombaknya yang besar
padahal pantai tetap diam tak menjawab.
Laut selalu mengirim ombaknya terus menerus,
pernahkah terlintas gumaman kecil dalam hati kecilmu;
adakah laut bosan mengirimkan ombaknya?
Pantai hanya sekelumit daratan yang beruntung
Karena tak semua daratan yang terhampar
bisa menyaksikan matahari terbit tenggelam
dengan indah sekali di tepi cakrawala,
Mendengar nyanyian nelayan subuh kala
tersenyum meliat tangkapan jalanya.
Tanpa laut pantai hanyalah kehampaan
tapi pantai tak pernah menjawab laut.
Tidak ada yang pernah mengerti
apa yang laut katakan pada pantai
melalui buih yang membawa serpihan karang
Adakah kau baca cintaku?
(Tuhan bukakanlah pintu hatinya,
selagi napasku belum sewarna darah
selagi hatiku belum sewarna malam.
sebelum penantian berubah menjadi keputusasaan
ditulis pada sebuah subuh di kaki kuta, tahun yang lalu
mungkin untuk takdir yang baru kuhadapi sekarang.
hujan jangan marah..
Januari 30, 2009
(suatu malam di tengah perjalanan)
tidak ada yang berubah sampai akhirnya tiba-tiba hujan menyemprot dari atap langit dan memaksaku memberhentikan motor di suatu halte – berteduh. Tak sendiri karena seorang orang tukang sapu, sekeluarga gelandangan dengan karavannya – sebuah gerobak barang bekas, dan kakek penjaja minuman ikut berbagi nasib denganku. Menyambut hujan.
Ya, hujan turun lagi setelah lima hari yang lalu ia jadikan jalanan antara pulogadung-salemba rute waterway baru. Bukan berarti diantara 5 hari tersebut tidak ada hujan, hujan memang turun tapi tak sederas sekarang. Dari pertama ia menumpahkan semua karya langit dengan bergelora hingga malu-malu gerimis dan kembali menggila seperti sekarang. Melihatnya seperti sedang membaca tanda-tanda: Apa arti pembicaraan langit dengan bumi?
Tidak ada yang bisa menyalahkan hujan jika ia turun semaunya tanpa jadwal karena hujan hanya memenuhi fitrahnya: membiarkan dirinya jatuh setelah dari dingin udara ia lahir. Hanya jika temperatur berkata lain maka hujan turun lebih deras atau lebih sedikit. Lebih banyak atau lebih sedikit, itu terserah apa sabda alam. Jadi pertanyaanku sebenarnya tak beralasan dan tak perlu karena sudah terjawab dengan sendirinya, tapi aku yakin dalam pikiranmu tercetus juga satu kegalauan yang sama; kalau hujan sedang punya pikiran lain?
Mungkin langit dan bumi sedang bercakap-cakap. Karena manusia akhir-akhir ini semakin kalap kelakuannya, ia turunkan hujan pada bumi dengan pesan jangan direguk cepat-cepat. Tingtong! Sekejap atap bagi kaum papa bukan lagi langit malam dan lantai bukan lagi aspal. Atau mungkin ia memang benar-benar sedang bersedih karena akhir-akhir ini napas penduduk jakarta luar biasa banyaknya sampai langit juga kesulitan bernapas? Atau memang ia ingin menyediakan kolam renang umum bagi dua juta penduduk jakarta agar mereka belajar untuk hidup sehat melalui olahraga renang?
Tak tahulahaku , tapi yang kulihat hujan yang dulu begitu bersahabat menemani secangkir kopi tubruk + semangkuk indomie telor sekarang lebih mirip kloset yang diflush seratus delapan puluh dua kali. Mengalir tanpa henti dan kali ini mengukir resah kembali. Kasihan sekali kotaku, orang-orang yang tak pernah naik waterway dan tak mampu berenang di kolam renang.
Di bawah halte beberapa nyawa sedang menanti takdir, antara melawan dingin atau menunggui muka air yang kini makin meninggi.
**
ditulis hari jumat setelah basah kuyup perjalanan
~sori minjem judul lagu efek rumah kaca, agak terinspirasi juga
sebaiknya kalian tahu puisi ini
Oktober 10, 2008
Sajak anak muda
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.
Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?
inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.
Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.
Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.
Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.
Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.
Mengapa harus kita terima hidup begini ?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.
Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
sementara hukum dikhianati berulang kali.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.
Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara
Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.
potret pembangunan dalam puisi, WS Rendra
sebuah salinan puisi rendra yang gw temukan di rak buku tua di rumah pukul 2.30 pagi setelah malam fenomenal itu.. gw udh teringat puisi ini dari semenjak selesai solat isya.. silakan dibaca, artikan dengan hati bukan dengan emosi..
terimakasih
