sebuah sore di stase Ilmu Penyakit Dalam
September 30, 2009
Setelah selesai visite pasien, lembar status pasien itu mulai kuisi di bagian paling atas:
“tuan S, 58 tahun, datang dengan keluhan nyeri kuadran kanan atas abdomen sejak 1 bulan lalu.”
sejenak tulisan tangan gw berhenti. tertegun
***
mari kita lihat mundur sejenak. hari ini adalah orientasi gw di departemen ilmu penyakit dalam RSCM, dengan pemicu edema alias bengkak. setelah rangkaian diskusi yang mencerahkan, akhirnya tiba pula bagian paling serunya: kerja klinik di bangsal.
dari diskusi sebelumnya, gw berhasil mendeterminasi bagaimana cara menyingkirkan keterlibatan organ dalam diagnosis diferensial bengkak; tanyakan sesak, bunyi napas, alergi, riwayat asma, riwayat merokok, riwayat kontak TB, dll untuk menyingkirkan keterlibatan paru, dst. dari catatan kecil ini gw bersama rombongan scut monkey lainnya ini memberanikan diri meng-anamnesis dan memeriksa fisik salah satu pasien bangsal: tuan S.
setelah selesai, kumpullah kita semua di ruang jaga dokter untuk berdiskusi – membahas hasil anamnesis.
***
tulisan lalu gw lanjutkan ke riwayat penyakit sekarang. Pasien mengeluh berat badannya turun, nafsu makan memburuk, kulit makin menguning, dan bengkak makin buruk di kedua kaki. Pasien mengeluhkan muntah berwarna merah dan buang air besar berwarna hitam.
Tulisan berlanjut terus hingga pada pemeriksaaan fisik gw harus menuliskan: pitting edema tungkai +/+, caput medusae (+), venektasis (+), hepar lobus dekstra teraba 5 jari di bawah arkus costae, hepar lobus sinistra teraba 4 jari dibawah prosesus xiphoid. terdapat bruit hepar.
gw terdiam kembali, tertengun
***
anamnesis gw masih berantakan. meskipun keterlibatan organ lain sudah disingkirkan, masih kurang beberapa temuan esensial yang harusnya ada pada pasien ini untuk menegakkan diagnosis. tanpa tedeng aling-aling, dokter residen pun menyuruh gw kembali memeriksa pasien. dengan langkah setengah malas, akhirnya gw kembali ke bangsal.
tidak ada senyum yang terkembang, hanya wajah yang tabah mengharap mukjizat. basa-basi dilancarkan dan akhirnya pemeriksaan yang kurang pun selesai dilakukan. tadinya gw kira sore ini akan gw tutup dengan biasa-biasa aja sampai ketika gw mohon diri ada yang mengait tangan gw. sebuah tangan renta dan isakan terbata-bata
“tolong saya dok, saya ingin sembuh dan tetap hidup!”
***
satu setengah jam. gw ga pernah menghabiskan waktu selama ini untuk melengkapi status pasien. setengahnya lebih gw habiskan untuk merenung, selalu terngiang pesan dokter residen sebelum gw kembali memeriksa pasien ini;
“Berlaku baiklah sama pasien ini, dia didiagnosis hepatoma stadium lanjut. Sisa hidupnya tidak akan lebih dari dari 2 bulan.“
***
(dari catatan semasa orientasi klinik, FCP RSCM, september lalu)
