hujan jangan marah..

Januari 30, 2009

(suatu malam di tengah perjalanan)

tidak ada yang berubah sampai akhirnya tiba-tiba hujan menyemprot dari atap langit dan memaksakuĀ  memberhentikan motor di suatu halte – berteduh. Tak sendiri karena seorang orang tukang sapu, sekeluarga gelandangan dengan karavannya – sebuah gerobak barang bekas, dan kakek penjaja minuman ikut berbagi nasib denganku. Menyambut hujan.

Ya, hujan turun lagi setelah lima hari yang lalu ia jadikan jalanan antara pulogadung-salemba rute waterway baru. Bukan berarti diantara 5 hari tersebut tidak ada hujan, hujan memang turun tapi tak sederas sekarang. Dari pertama ia menumpahkan semua karya langit dengan bergelora hingga malu-malu gerimis dan kembali menggila seperti sekarang. Melihatnya seperti sedang membaca tanda-tanda: Apa arti pembicaraan langit dengan bumi?

Tidak ada yang bisa menyalahkan hujan jika ia turun semaunya tanpa jadwal karena hujan hanya memenuhi fitrahnya: membiarkan dirinya jatuh setelah dari dingin udara ia lahir. Hanya jika temperatur berkata lain maka hujan turun lebih deras atau lebih sedikit. Lebih banyak atau lebih sedikit, itu terserah apa sabda alam. Jadi pertanyaanku sebenarnya tak beralasan dan tak perlu karena sudah terjawab dengan sendirinya, tapi aku yakin dalam pikiranmu tercetus juga satu kegalauan yang sama; kalau hujan sedang punya pikiran lain?

Mungkin langit dan bumi sedang bercakap-cakap. Karena manusia akhir-akhir ini semakin kalap kelakuannya, ia turunkan hujan pada bumi dengan pesan jangan direguk cepat-cepat. Tingtong! Sekejap atap bagi kaum papa bukan lagi langit malam dan lantai bukan lagi aspal. Atau mungkin ia memang benar-benar sedang bersedih karena akhir-akhir ini napas penduduk jakarta luar biasa banyaknya sampai langit juga kesulitan bernapas? Atau memang ia ingin menyediakan kolam renang umum bagi dua juta penduduk jakarta agar mereka belajar untuk hidup sehat melalui olahraga renang?

Tak tahulahaku , tapi yang kulihat hujan yang dulu begitu bersahabat menemani secangkir kopi tubruk + semangkuk indomie telor sekarang lebih mirip kloset yang diflush seratus delapan puluh dua kali. Mengalir tanpa henti dan kali ini mengukir resah kembali. Kasihan sekali kotaku, orang-orang yang tak pernah naik waterway dan tak mampu berenang di kolam renang.

Di bawah halte beberapa nyawa sedang menanti takdir, antara melawan dingin atau menunggui muka air yang kini makin meninggi.

**

ditulis hari jumat setelah basah kuyup perjalanan
~sori minjem judul lagu efek rumah kaca, agak terinspirasi juga

Leave a Reply