gong xi fa cai

Januari 27, 2009

Gong xi fa cai..

Gantungan berisi empat kata itu menggantung mesra di depan gerbang kompleks rumahku. Kalimat empat kata yang mungkin teman-teman sering lihat akhir-akhir ini. Dari toko kelontong engkong oei, kedai kopi punyanya kokoh liem, hingar bingar jalan pinangsia, hingga pusat perbelanjaan kelas atas. Di tempat-tempat yang bahkan mungkin pemiliknya tidak tahu apa artinya. Kalimat empat kata yang menghilang cukup lama dan cukup mengembalikan kenangan pahit tentang tidak sebandingnya arti dengan balasan yang didapatkan orang yang mengucapkannya. Kalimat empat kata yang bahkan tak juga meluluhkan hati sekelompok fanatik-fundamentalis untuk membuka hati mereka.

Astaga! Sampai lupa aku mengenalkan diriku, kenalkan namaku Han Beng, kusebutkan selalu dengan bangga karena itu nama pemberian engkongku setelah dia sembahyang tiga hari tiga malam di klenteng. Asing memang karena banyak saudara taulanku yang mengganti namanya menjadi lebih kebarat-baratan atau keindonesiaan. Apa? Oh aku tahu, kamu pasti sedang terkesiap dengan kata aneh bin ajaib bernama “keindonesiaan”. Aku sendiri agak bingung menjelaskan artinya karena memang hanya itu yang terlintas dikepalaku, “nama yang keindonesiaan”.

Suatu waktu saat aku masih duduk di bangku SD, pak guru pernah menjelaskan arti Indonesia. “Indo” artinya timur, “nesia” artinya gugus pulau. Tidak ada sama sekali kata Jawa, Sunda, Minang, Bugis, Arab, dan ras lain-lainnya. Bung Karno pun menegaskan lewat konsep bhineka-nya ketika dia membidani negara penuh harga diri ini. Aneh sekali mengetahui bahwa ternyata aku harus mengindonesiakan namaku sendiri padahal keluargaku sudah berada di negeri ini dari waktu yang lama sekali.

Ingin rasanya ber-Indonesia, namun ternyata aku terbentur dinding tak terlihat. Keadaan mengotakkan aku dalam tempurung sempit, dari aku sekolah jongkok sampai sekolah tinggi. Beribu-ribu saudaraku putus asa dan memilih menyerah dan membangun peradaban dalam kotak yang kelompok lain buat, tapi aku ingin tetap melawan. Aku tionghoa atau Indonesia atau yang cari aman sekalian, tionghoa-indonesia?  Betapa aku ingin kalian semua yang menjawabnya!  Tentang besar harapanku diskriminasi tak berulangtahun lagi, terlepas dari tembok itu!

Akhir kata, aku tak ingin berkata banyak, karena dalam kata selalu tersimpan pedang. Di meriah pulasan warna merah dan ramai berkah hujan, satu kalimat penuh doa yang ingin kuucap padamu..

Gong xi fa cai
Semoga kamu, kita, semua semakin sejahtera di tahun yang baru ini=D

——

ditulis pada taun baru imlek
setengah mengantuk..
cuma rekaan kok.. jangan tanya gw tentang siapa itu han beng dll=D

One Response to “gong xi fa cai”

  1. sar Says:

    menyentuh. aku terharu. a nice one :)

Leave a Reply